MEMBACA IRAN melalui Rhizome

 MEMBACA IRAN melalui Rhizome

Ismail Hashim Yahaya


Rhizome Perang, Semiotika Perlawanan

Berita terkini melaporkan kematian seorang pemimin kanan Iran Ali Larijani, selepas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini. Tetapi barat khususnya AS dan Ishell masih tidak mengenali Iran
Bahagian Satu
Rahsia Kekuatan Tentera Iran yang luar biasa
"Iran telah membangun angkatan bersenjata yang tidak boleh dihentikan, tidak hancur oleh bom, tidak kalah dengan pembunuhan bergerak secara autopilot." (olah terjemahan)
Demikian pembuka sebuah video viral yang ditranskrip dari seorang wartawan kanana di Delhi, India. Sepuluh minit pemaparan yang membuat sesiapa menonton pun rasa kehairanan. Satu doktrin ketenteraan yang disebut "Mosaic Doctrine" —Doktrin Mosaik.
Ceritanya bermula dari tahun 2003. Ketika tentera Presiden Iraq, Saddam Hussein kalah hanya dalam 11 hari, para jeneral Iran menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mereka mengambil pelajaran penting:
Tentera yang terpusat akan kalah jika pemimpinnya terbunuh.
Maka dari situlah, pada 2005, Jeneral IRGC Muhammad Jafari menciptakan Doktrin Mosaik. Ideanya sederhana namun revolusioner: pecah tentera Iran menjadi 31 divisyen Satu wilayah satu divisyen. Masing-masing mampu berperang sendiri secara konsisten dan mampan.
Setiap komando wilayah memiliki:
· Markas besar sendiri
· Persediaan senjata sendiri
· Jaringan perisikan sendiri
· Arahan rahsia yang telah disusun dan disahkan sendiri
Arahan itu akan diaktifkan begitu apabila komando pusat berhenti berkomunikasi.
Tidak diperlukan isyarat dari Tehran. Tidak ada arahan dari Pemimpin Tertinggi. Pemicunya adalah tiada arahan untuk berhenti.
Ini bukan kelemahan. Justru strategi.
Bahagian Dua
Ketika Senario Menjadi Kenyataan
Pada 28 Februari 2026, senario itu diuji.
AS-Israel melancarkan "Operasi Epic Fury," menyerang infrastruktur kepemimpinan Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei terbunuh.
Maka 31 komando Iran itu terus menembak.
Ini kerana doktrinnya mengatakan: "Jika tidak ada yang menyuruhmu berhenti, jangan berhenti!"
Hamas—organisasi yang dipersenjatai Iran selama 17 tahun—secara terbuka meminta Teheran berhenti menyerang negara tetangga. Poros perlawanan berdebat terbuka untuk pertama kalinya. Bahkan sekutu Iran sendiri kini menyedari apa yang tidak pernah dimasukkan para perancang Doktrin Mosaik:
Tidak ada butang untuk dimatikan.
Mesin perang itu dirancang untuk bertahan tanpa operator. Operatornya sudah pergi tetapi mesinnya tetap berjalan.
Ini bukan perang yang dimenangkan Iran. Ini adalah perang yang tidak lagi dapat diakhiri oleh Iran sendiri.
Bahagian Tiga
Membaca dengan Kacamata Yasraf: Semiotik Mesin Perang
Di sinilah kita meminjam pisau analisis Yasraf Amir Piliang— intelektual Indonesia yang dikenal dengan pemikiran semiotik, hiperrealiti dan konsep rhizome. Baginya, realiti sosial-politik adalah teks yang penuh tanda, tempat kekuasaan dan perang bekerja dalam ruang simbolik.
3.1 Mesin Perang sebagai Tanda yang Hidup
Bagi Yasraf, mesin bukan sekadar alat fisik bahkan sebagai penanda yang menghasilkan makna. Doktrin Mosaik Iran adalah mesin perang dalam erti sesungguhnya—ia menghasilkan tanda-tanda:
Penanda (Signifier) Petanda (Signified)
31 komando otonom tidak takut mati
Tidak ada perintah berhenti merupakan ancaman abadi
Desentralisasi ekstrem kegigihan yang tidak terbendung
Doktrin ini adalah tanda yang dikirim Iran ke dunia: "Kami bukan negara yang mudah dikalahkan dengan cara konvensional. Kalian membunuh pemimpin, kami menjadi lebih liar."
3.2 Hiperrealiti Perang
Yasraf yang banyak dipengaruhi tokoh pasca moden Peranchis Jean Baudrillard melihat perang Iran-AS/Israel telah memasuki tahap hiperrealiti:
· Apa yang nyata dan yang simbolik melebur. Serangan "Operasi Epic Fury" yang membunuh Khamenei bukan hanya peristiwa fisikal tetapi juga peristiwa tanda. Ia menandakan "kemenangan" bagi satu pihak sekaligus memicu rangkaian tanda balasan yang tidak terputus.
· Perang menjadi tontonan global. Setiap serangan peluru berpandu disiarkan, dikongsi menjadi meme serta menjadi narasi. Media sosial adalah medan perang tanda.
· Doktrin Mosaik menciptakan realiti tandingan: meskipun pusat tumbang, "Iran" tetap menyerang. Inilah simulasi keabadian.
3.3 Logika Rhizome: Akar Rimpang Perlawanan
Konsep paling Yasrafian yang relevan di sini adalah rhizome, dipinjam dari tokoh pasca moden dari Peranchis, Giles Deleuze dan Felix Guattari dalam buku mereka From a Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia. Rhizome adalah cara berpikir yang membezakan dirinya dari pohon (arborescent):
Berfikir Pohon Rhizome
Satu akar tunggal banyak akar menyebar
Hierarki (atas-bawah) Jaringan (cabang-cabang)
Pusat memerintah pinggiran dan setiap titik dapat jadi pusat
Jika pangkal ditebang, mati semua tetapi jika satu putus, yang lain hidup
Kekalahan Saddam timbul Doktrin Mosaik Iran
Doktrin Mosaik membuang "pohon" dan memilih "rhizome." Iran sedar: di era dron dan pembunuhan terarah, struktur pohon adalah sasaran empuk. Struktur rhizome adalah bentuk kehidupan yang bertahan.
3.4 Lima Prinsip Rhizome dalam Doktrin Mosaik
1. Hubungan (Connection)
Setiap titik dapat terhubung dengan titik lain.
31 wilayah tidak hanya terhubung ke Teheran bahkan dapa saling terhubung secara horizontal. Jika provinsi A dan B kehilangan kontak dengan pusat, mereka membina koordinasi, berbagi risikan, membentuk aliansi baru. Jaringannya tetap hidup.
2. Heterogeniti (Heterogeneity)
Yang berbeza dapat disambungkan.
Iran menghubungkan tentara reguler, barisan hadapab Revolusi, militia Basij, suku Kurdis, militia Syiah Afghanistan bahkan Hizbullah Lubnan. Semua berbeza tetapi disambungkan dalam satu jaringan perlawanan. Rhizome tidak perlu keseragaman; ia memerlukan hubungan .
3. Multiplisiti (Multiplicity)
Ia tidak punya pusat, hanya dimensi-dimensi.
Ketika Khamenei dan Ali Larijani gugur apa yang terjadi bukan kekosongan tetapi munculnya banyak pusat baharu. Musuh tidak dapat menghancurkan "satu" kerana memang tiada yang tunggal.
4. Pemutusan yang tidak Bermakna (A-signifying Rupture)
Rhizome boleh putus di mana saja namun akan tumbuh lagi dari garis lamanya atau garis baru.
AS-Israel berhasil memutus jaringan pusat. Tapi dalam logika rhizome, ini pemutusan yang tidak bererti. Daripada setiap wilayah daripada setiap sel daripafasetiap militua yang diprogram "jika tiada arahan berhenti, teruslah menyerang", ia akan tumbuh lagi garis perlawanan baru.
5. Kartografi vs Kalsografi (Map vs Tracing)
Rhizome membuat peta, bukan menciplak.
Musuh bekerja dengan menciplak: punya peta perisikan , struktur komando, foto para jeneral. Mereka menyerang berdasarkan peta itu. Tapi Iran bekerja dengan membuat peta baharu setiap saat. Doktrin Mosaik adalah peta yang terus berubah—menciptakan realiti baharu yang tidak terduga oleh peta lama musuh.
Bahagian Empat
Ironi Semiotik: Tanda yang Lepas dari pencipta
Yasraf sering menyoroti paradoks tanda: bahwa tanda dapat lepas dari penciptanya.
Dalam Doktrin Mosaik:
· Iran menciptakan mesin perang sebagai tanda kekuatan.
· Tapi mesin itu kini telah menjadi tanda yang tidak dapat dikendalikan oleh penciptanya sendiri.
· Tanda itu hidup sendiri. Ia menjadi raksaksa dalam mitos: diciptakan untuk melindungi tetap boleh menghancurkan penghasilnya jika tidak boleh dihentikan.
Inilah ironi semiotik terbesar: Kekuatan mutlak yang dirancang untuk bertahan tetapi tidak dapat dihentikan.
Bahagian Lima
Membaca Pro-Iran: Antara Strategi, Luka Sejarah dan Logika Bertahan
Setelah membaca dengan pisau analisis ketenteraan dan semiotik, kita perlu menilai perspektif. Membaca dari sisi pro-Iran bukan propaganda buta tetapi mencuba masuk ke dalam logika, sejarah luka dan cara berfikir peradaban yang selama 40 tahun lebih hidup dalam sekatan, ancaman dan perang asimetris.
Apa yang oleh dunia disebut "gila", oleh Iran disebut satu-satunya cara bertahan yang masuk akal.
5.1 Doktrin Mosaik: Strategi Kaum Lemah yang Cerdas
Dalam teori perang, ada konsep perang asymmetrik. Iran sejak revolusi 1979 sedar: mereka tidak akan pernah menang secara konvensional melawan AS-Israel. Maka satu-satunya jalan adalah menciptakan sistem yang membuat musuh tidak mampu menang.
Doktrin Mosaik adalah jawaban atas pertanyaan: "Bagaimana cara membuat negara sekecil Iran (secara teknologi militer) dapat membuat kuasa besar seperti AS takut?"
Jawabannya: Buat perang ini tidak pernah dapat dimenangkan bahkan jika mati sekalipun.
Ini bukan kebodohan. Ini adalah kecerdasan eksistensial:
· Jika kau tidak dapat mengalahkan mereka di medan perang,
· Buat mereka takut memasuki medan perangmu,
· Ini kerana di sana bahkan kematian Khameini tidak akan mengakhiri perang.
5.2 Akar Sejarah: Pelajaran dari Saddam
Jeneral Iran yang menyaksikan matinys Saddam dalam 11 hari belajar satu hal pahit: Pemusatan adalah kematian.
Saddam punya tentara besar, ribuan kereta kebal, pesawat canggih. Tetapi Baghdad masih jatuh dan patungnya dirobohkan, semuanya bubar. Mengapa? Ini kerana semuanya tergantung pada satu kepala.
Dari situlah lahir Mosaic Doctrine. Ini adalah anti-tesis daripada tentera Saddam. Jika Saddam membangun piramid, Iran membangun ladang sarang semut: roboh satu sarang, ribuan sarang lain tetap hidup bahkan tidak tahu bahawa sarang pusat sudah hancur.
Bagi Iran, ini bukan kegilaan. Ini adalah ubat atas trauma sejarah.
5.3 "Tidak Ada Tombol Mati" sebagai Jaminan Hidup
Dunia melihat "tidak ada tombol mati" sebagai kelemahan. Iran melihatnya sebagai jaminan.
Cuba fikir dari sisi Iran:
· Jika kita tahu bahwa musuhmu dapat membunuh pemimpinmu pada bila-bila masa saja,
· Maka kau harus menciptakan sistem yang tetap hidup meskipun pemimpinnya mati.
· Bahkan lebih: sistem yang menjadi lebih ganas jika pemimpinmu mati.
Ini adalah pesan psikologi yang sangat kuat: "Bunuh pemimpin

No comments: